Senin, Desember 29, 2008

tak pernah berakhir indah

semula dimulai dengan sesuatu yang indah
lalu sedikit demi sedikit kerikil datang membuat jalan itu jadi tak lagi mulus seperti semula
kerikil itu terlontar dari tanganku sendiri
kerikil itu ku ambil dari jalanan cerita hidupku

ketika melangkah bersama aku terjatuh
ketika menolongku dia tertusuk salah satu kerikilku
ketika aku mampu berdiri dia tinggalkan aku dengan luka yang dibawa
ketika telah jauh dia kembali memberi asa

detik demi detik mungkin terlalu cepat berlalu
waktu terus berlalu tanpa lelah dan mengeluh
hari-hari ini yang telah lewat terasa hampa dan tiada lagi yang indah
satu demi satu kenyataan pahit terdengar dan terpampang di depan mata

sakit namun percuma
bahagia namun hati tak rela
bertahan namun kakiku telah lelah berdiri
berlari namun entah kemana aku harus melarikan diri

kembali kata ini aku gunakan sebagai tameng menutup kebohongan
aku memilih diam
dalam diam aku bisa berteriak, menjerit, mengumpat, meluapkan emosi, menghujat, dan menangis
dalam diam aku bisa tertawa dan bersuka cita sepuasnya
meskipun semakin aku tertawa semakin sakit dan lukaku semakin menganga
seperti luka yang tak dapat sembuh lagi dan membekas dengan bekas yang teramat sangat buruk dan menjijikan
hidupku aku hancurkan kembali
tak dapat aku perbaiki lagi
sekeras aku berusaha aku tak mampu lagi menghadapi kenyataan hidupku seperti apa
dimana aku harus berada...
dimana aku harus bertahan...
kemana aku harus melepas lelahku...
dengan siapa aku menghabiskan sisa hidupku...
semua tetap seperti dulu
awal yang begitu indah
namun tak pernah berakhir seindah aku mengawalinya

Tidak ada komentar: